Latest topics
» Bahaya Logam Berat Bagi Kesehatan ( Bag 2)
Wed Dec 07, 2016 2:14 pm by Firman

» Bahaya Logam Berat Bagi Kesehatan ( Bag 1)
Fri Dec 02, 2016 2:32 pm by Firman

» SOD Alami
Thu Dec 01, 2016 4:55 pm by Firman

» Mengenal Enzim (Bag. 2)
Sat Nov 26, 2016 10:59 am by Firman

» Mengnal Enzim (bag. 1)
Fri Nov 18, 2016 2:46 pm by Firman

» Tak Perlu Suntik Kolgen , Ada Cara Alami Pertahankannya
Thu Nov 17, 2016 10:19 am by Firman

» Apa Perbedaan Jenis Kolagen?
Thu Nov 10, 2016 10:55 am by Firman

» Sumber Terbaik Omega-3
Fri Nov 04, 2016 2:52 pm by Firman

» Kalium, Sumber, Fungsi, dan Manfaat
Fri Oct 28, 2016 5:19 pm by Firman

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Luxor Indonesia Forum on your social bookmarking website


Mengenal zat aditif makanan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Mengenal zat aditif makanan

Post  Firman on Wed Sep 10, 2014 4:56 pm

Rasa-rasanya sangat sulit menemukan jenis makanan yang bebas zat aditif kecuali makanan yang dibuat bunda di rumah. Hampir setiap makanan dalam kemasan dapat dipastikaan mengandung zat aditif. Sebut saja dari daging dalam kemasan, makanan cemilan, produk susu olahan, buah dalam kemasan, dan minuman kalengan semuanya mengandung zat aditif. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, mari kita tinjau dulu apa sebenarnya zat aditif itu.

Bahan tambahan makanan adalah bahan yang  biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas makanan, mempuyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi (termasuk organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyediaan, perlakuan, pewadahan, bungkusan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu komponan yang mempengaruhi sifat khas  makanan (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 722/MENKES/PER/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan). Peraturan ini pada awalnya diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 329/MENKES/PER/XII/76, yang kemudian disempurnakan dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor  1168/MENKES/PER/X/1999 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor  722/MENKES/PER/IX/1988 Tentang Bahan Tambahan Makanan.

Zat Additif Makanan
Zat additif makanan sebenarnya merupakan suatu bahan yang sengaja ditambahkan pada makanan dan minuman.Bahan yang ditambahkan tergantung dari kepentingan produsen atau penjualnya. Bisa sebagai pengawet, pemanis, penguat rasa dan aroma, penstabil, pewarna, pelembut, pengemulsi, dan lain-lain.

1. Pengertian Food Additive
Menurut : ” Buku Food Hygiene & Sanitation “ Food Additive : Bahan-Bahan yang ditambahkan  kedalam makanan untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, tekstur atau memperpanjang masa simpan.

2. Syarat-Syarat Food Additive yang dapat digunakan :
- Harus dapat memperthankan nilai gizi makanan tersebut.
- Tidak mengurangi zat-zat esensial di dalam makanan.
- Dapat mempertahankan atau memperbaiki mutu makanan.
- Menarik bagi konsumen tetapi tidak merupakan suatu penipuan.

3. Food Additive yang tidak boleh digunakan bila:
- Merupakan tindakan penipuan kepada konsumen.
- Menurunkan nilai gizi makanan.
- Menyebunyikan kesalahan dalam teknik pengolahan.

Pengawet
Makanan dan minuman sebenarnya dapat diawetkan tanpa menambahkan bahan pengawet sintetis berbahaya. Makanan dan minuman dapat diawetkan dengan berbagai cara.Makanan bisa diawetkan dengan menambahkan garam, misalnya telur yang diawetkan menjadi telur asin, atau sayuran dan buah yang dibuat asinan. Makanan juga bisa diawetkan dengan gula, misalnya dibuat buah-buahan segar bisa dibuat manisan atau selai. Rempah-rempah juga menjadi bahan pengawet alami yang aman. Makanan dan minuman olahan juga bisa diawetkan dengan menggunakan pemanasan pada suhu tinggi (ultra high temperature), ozon, sinar UV, penambahan enzim, pengeringan, atau melalui proses pembekuan untuk mencegah tumbuhnya mikroba pengurai atau jamur yang akan menyebabkan makanan tidak layak dikonsumsi.

Produk makanan dan minuman olahan kebanyakan menggunakan bahan pengawet agar mutu dan kualitasnya tetap terjaga selama batas kadaluarsa. Bahan makanan yang telah mengalami kerusakan tentu saja dapat menyebabkan keracunan, itulah sebabnya pengawetan makanan menjadi sangat penting. Selain itu, makanan dan minuman kaleng, apabila telah kadaluarsa juga sangat potensial tercemar bakteri dan logam berat yang berasal dari kaleng kemasannya. Kerusakan makanan biasanya karena terjadi reaksi oksidasi sehingga makanan menjadi busuk atau tengik, sehingga dalam pengawetan makanan biasanya dilakukan dengan menambahkan berbagai senyawa antioksidan, baik alami maupun sintetis. Bahan pengawet yang jelas dilarang dalam makanan adalah formalin dan boraks yang banyak disalahgunakan dalam pembuatan mie, bakso, kerupuk dan tahu.

Pemanis
Melambungnya harga gula, baik sukrosa, glukosa, atau turunan senyawa karbohidrat lainnya membuat produsen makanan lebih diuntungkan dengan penggunaan pemanis buatan. Selain rasa manisnya berlipat, biaya produksi lebih murah. Beberapa contoh pemanis buatan bisa berupa senyawa monosodium siklamat, sakarin dan aspartam. Biasanya pemanis buatan bisa menimbulkan efek rasa pahit setelah makan atau minum, meski siklamat cenderung tidak. Sebenarnya pemanis buatan hanya boleh dikonsumsi penderita diabetes, itupun dalam takaran yang tepat.Mengkonsumsi pemanis buatan bisa mengantarkan kita pada penderitaan. Konsumsi secara berlebihan mengakibatkan kanker kandung kemih, migrain, kanker otak, gangguan fungsi seksual, iritasi, asma, hipertensi, diare, gangguan pencernaan, insomnia, berkurangnya ingatan, rambut rontok.

Penyedap dan penguat rasa
Penyedap rasa menjadi jurus ampuh kelezatan masakan.Padahal sebenarnya banyak sekali penyedap rasa alami yang aman dan memberikan khasiat menangkal penyakit.Rempah-rempah yang ada di sekitar kita seperti daun salam, jahe, lengkuas, bawang, kunyit, cabe, kayu manis, merica, ketumbar, jintan, kapulaga, cabe jawa, serai, dan masih banyak lagi sebenarnya sudah cukup memberikan aroma dan rasa yang lezat, tetapi dari sisi kepraktisan memang kalah.Meski banyak bumbu instant yang memberikan tawaran yang bisa menggoyangkan lidah, biasanya juga tidak luput dari penguat rasa sintetis. Kehadiran MSG atau monosodium glutamat yang merupakan suatu protein yang disintesis dari tetes tebu atau molases ini bisa meningkatkan nafsu makan.Di satu sisi kebanyakan mengkonsumsi lambat laun kita akan punya peluang terkena hipertensi, gangguan syaraf otak, kelaian cairan sumsum tulang belakang, gangguan hati, stroke, kanker, gangguan sekresi, ginjal, dan melemahkan kecerdasan.
Selain penyedap rasa, dalam produk makanan dan minuman juga ditambahkan penguat rasa asam sitrat, asam cuka, benzaldehid, amil asetat, dan berbagai senyawa ester yang mampu memperkuat rasa buah-buahan segar. Penambahan penguat rasa ini tentu saja dapat memperkuat ekstrak buah bahkan dapat menggantikan ekstrak buah dalam produk makanan dan minuman.

Pewarna
Kalau dulu masyarakat boleh menganggap makanan yang berwarna coklat pasti menggunakan coklat, moka, kopi atau gula jawa sehingga aman dikonsumsi. Tahu yang berwarna kuning tentu aman karena menggunakan kunyit. Jajanan pasar yang berwarna hijau juga aman dengan daun suji sebagai pewarna alami. Sebenarnya kita sangat dimanjakan alam dengan kelimpahan aneka bahan pewarna alami yang sangat beragam. Kunyit, kayu secang, daun suji, gula jawa, pandan, ubi ungu, jambu biji merah, wortel, stoberi, buah naga merah, angkak, karamel, coklat, rosela, bayam (hijau atau merah) dan aneka buah serta sayuran segar sebenarnya sudah cukup memberikan tampilan warna yang menarik untuk makanan dan minuman. Akan tetapi dengan pertimbangan nilai ekonomis dan sisi praktis dalam penggunaannya, kebanyakan makanan dan minuman masih menggunakan pewarna sintetis. Selain awet, murah, dan mampu tampilan warna yang lebih menyala menjadi alasan tersendiri untuk memilih pewarna buatan. Asalkan masih dalam batas takaran yang diperbolehkan, pewarna makanan masih aman digunakan. Pewarna sintetis yang aman digunakan diantaranya adalah tartazin Cl 19140 (kuning), sunset yellow FCF (jingga), karmoisin (merah) dan brilliant blue FCF (biru). Rhodamin B yang dikenal sebagai pewarna kertas dan tekstil jelas dilarang dan tidak aman dikonsumsi.

Pengental
Pengental makanan termasuk juga dalam zat additif makanan yang berfungsi menstabilkan, memekatkan atau mengentalkan makanan. Bahan pengental yang aman digunakan adalah pati, gelatin, dan gum (agar-agar, alginat, karagenan). Penggunaan gelatin dalam makanan harus dicermati dan dipastikan kehalalan produknya dengan beberapa produk tertentu menggunakan gelatin babi.

Pengemulsi
Pengemulsi ditambahkan dalam makanan dan minuman untuk memberikan tekstur yang baik dalam makanan dan minuman. Penambahan pengemulsi berfungsi untuk mempertahankan dispersi lemak dalam air atau dispersi air dalam lemak, sehingga memiliki bentuk yang lebih lembut. Pengemulsi yang ditambahkan biasanya menggunakan lesitin kedelai, kuning telur, gom Arab, dan gliserin. Penggunaan lesitin dan gliserin ini juga harus dicermati dan dipastikan bukan terbuat dari babi. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat label makanan dan minuman sebelum membeli, perhatikan komposisi bahan dan logo halal LPPOM MUI.

Vitamin dan mineral.
Untuk melengkapi nilai gizi makanan olahan, sering kali vitamin dan mineral tertentu ditambahkan. Misalnya penambahan vitamin C pada minuman kemasan, unsur kalsium pada jus atau sereal, dan vitamin pada roti dan mie.

Firman

Jumlah posting : 103
Points : 307
Reputation : 0
Registration date : 05.06.13

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik